- Cegah perundungan tak bisa omong-omong doang -
Jangan-jangan tugas mencegah perundungan menjadi beban para guru di sekolah. Jangan-jangan, karena tugas utama kan nilai siswa-siswanya.
Kalau siswa-siswa bagus nilanya, lanjut ke
sekolah-sekolah favorit, maka berhasillah proses pendidikannya.
Dengan begitu, hal-hal lain selain nilai bolehlah
dikesampingkan. Kan, pada akhirnya hanya nilai siswa yang dijadikan
patokan keberhasilan.
Yang lain-lain itu sebatas asal tidak buruk-buruk
amat atau memalukan, seperti jadi ramai diberitakan.
Kasus perundungan termasuk di sini. Asal tidak ada
menjadi pemberitaan ramai, ya sudahlah. Ada siswa dihina-hina siswa lain, ya
sudahlah, namanya juga anak-anak. Ada siswa digebukin, ya asal tidak luka-luka,
damai saja. Ada siswa dipaksa traktir siswa lain, ya tidak apa-apa, asal bayar
SPP lancar. Ada orang tua protes anaknya di-bully, ya sudah damai saja
atau diamkan, nanti juga reda.
Tidak perlu dipusingkan karena tidak masuk dalam
indikator penilaian.
Kalau begini caranya, kasus perundungan
sesungguhnya berbau struktural. Bukan persoalan karakter, gaya, sikap atau
pemahaman individual lagi. Bukan semata-mata kesalahan siswa, guru, kepala
sekolah atau komunitas sekolah tetapi negara/ pemerintah ikut bertanggung
jawab.
Ikut bertanggung jawab karena merekalah yang
menentukan apa prioritas sekolah. Indikator menentukan konsentrasi perhatian,
pikiran, tenaga, dan uang.
Kalau sekolah mau bebas dari perundungan, maka
mulailah bebenah secara struktura. Ubahlah paradigmanya. Lalu ubah pula
turunannya sampai indikator-indiktornya.
Prioritas pada nilai menunjukkan paradigma kegiatan
belajar yang individual, ala barat, yang mengutamakan kompetisi. Maka itu,
kehidupan sosial dari sekolah tidak menjadi penting.
Perundungan itu masalah interaksi-relasi antarsiswa
atau aspek sosial dari kehidupan sekolah. Lawan dari kompetisi adalah
kolaborasi. Kolaborasi itu tidak individual tapi komunal. Pertanyaannya, apakah
sekolah mau dijadikan ajang kompetisi semata atau juga memiliki sisi kolaborasi
yang kental?
Dari paradigma, tunjukkan bentuk operasionalnya.
Tunjukkan perundungan sebagai prioritas. Bukan hanya omong-omong tapi dengan
indikator. Bukan hanya dengan uang tanpa indikator agar tidak seperti
sumbangan, yang tidak perlu ada akuntabilitas-nya (kecuali yang ngasal-ngasal
seperti di atas itu saja).
Pertanyaannya sekarang adalah betulkah perundungan
mau dilenyapkan atau setidaknya dikurangi di sekolah? Kalau iya, tidak bisa
dengan omong-omong doang.
Condet, 16 Maret 2024 - RR

Comments
Post a Comment